Kembali ke Akar, Menjinakkan Dolar: Bagaimana Ruralisasi Modern Menjadi Benteng Pertahanan Ekonomi Kita
Layar ponsel berkedip menampilkan grafik hijau dan merah yang tak pernah tidur. Angka pertukaran Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat kembali bergerak liar, menciptakan riak kecemasan yang menjalar dari gedung-gedung kaca di Sudirman hingga ke warung kopi di gang-gang sempit ibukota. Setiap kali Dolar "emosi" dan merangsek naik, denyut nadi penduduk kota berdetak lebih cepat. Harga bahan pangan impor meroket, cicilan terasa mencekik, dan daya beli menyusut dalam diam.